Asal Mula Tanaman Padi Tumbuh Di Sinjai

Asal Mula Tanaman Padi Tumbuh Di Sinjai

Dahulu kala tanaman padi bisa tumbuh dan hidup serta bergerak seperti manusia, akan tetapi tak seorang pun manusia boleh mengetahuinya, karena begitulah yang sudah menjadi ketetapan Yang Maha Kuasa. Tersebutlah pada masa padi bisa berjalan, konon ada sebuah kerajaan besar di Poso, sang raja selalu memerintahkan para abdinya untuk mengikat padi atau “Mappabbesse Ase“ kemudian disimpan di tempat penyimpanan padi yang ada di bawah atap yang biasa disebut “ Rakkeang“.


Di bawah atap tersebut hiduplah seekor kucing bernama “Meong Palo Karellae“ yang ditugas oleh Dewi Padi untuk menjaga semua padi milik raja agar terhindar dari serbuan tikus. Hingga pada suatu hari di tempat penyimpanan padi tersebut banyak tikus yang merajalela, ingin memakan padi di karung, namun beruntunglah dengan sigap Meong Palo Karellae bisa mengusir tikus-tikus tersebut.

Akan tetapi tanpa disengaja Meong Palo Karellae dalam aksinya mengusir tikus, tanpa sengaja ia terpeleset dan tubuhnya menjatuhi sebuah panci besar berisi santan sayur. Akibatnya seluruh santan sayur di panci tersebut menjadi tumpah. Mengetahui santan sayurnya tumpah, koki kerajaan menjadi sangat marah sehingga tanpa sadar dia langsung memukul kepala kucing tersebut dengan sebilah peniup api yang mengakibatkan kepala sang kucing terluka dan mengeluarkan banyak darah.

Sungguh sakit hati dan raga Meong Palo Karellae, kepalanya terluka dan hatinya bersedih, karena sungguh ia merasa manusia tak punya rasa terimakasih sedikitpun kepada binatang yang telah setia menjaga padinya. Maka menangislah ia dengan tersedu-sedu, sebab menduga bahwa sifat semua orang di kerajaan Poso itu tak ada  satupun yang baik.

Dan itu menjadi alasan kuat bagi Meong Palo Karellae untuk meninggalkan Kerajaan Poso. Sewaktu meninggalkan kerajaan, sang kucing sangatlah terkejut, sebab padi-padi yang selama ini ia jaga, ternyata berjalan mengikutinya kemana pun ia pergi. Rupanya padi-padi tersebut diperintahkan oleh Dewi Padi agar mengikuti kemanapun sang kucing pergi berkelana mencari tempat yang lebih baik dari tempat sebelumnya, dan memiliki rakyat dengan sifat baik dan terpuji.

Perjalanan yang ditempuh oleh Meong Palo Karellae bersama para padi ternyata sangat jauh, keluar masuk hutan dan naik turun gunung demi mencari kehidupan baru yang lebih baik. Hingga akhirnya karena merasa sangat letih, saat mereka tiba di sebuah gunung bernama Bulu Ase di Kabupaten Sinjai, mereka pun memtuskan untuk beristirahat dan tertidur di sebuah kampung yang bernama Buluppoddo. Ketika mereka terbangun, matahari sudah muncul dan orang-orang di kampung tersebut telah keluar rumah untuk beraktifitas.

Sudah menjadi ketetapan yang maha kuasa, bahwa manusia tak boleh mengetahui kalau padi yang bersama Meong Palo Karellae itu hidup dan bisa berjalan layaknya manusia , oleh karena itu rupanya sudah menjadi ketetapan takdir bahwa Meong Palo Karellae harus menghentikan perjalanan mereka dan menetap di kampung Buluppoddo yang terletak di gunung Bulu Ase.

Dan rupanya penduduk kampung itu sangatlah baik dan terpuji sifatnya serta penyayang, sehingga Meong Palo Karellae dengan senang hati menghabiskan sisa umurnya di kampung tersebut untuk menjaga para padi yang senantiasa berjalan bersamanya selama ini. Semua padi pun tumbuh menjadi satu dalam sawah-sawah yang mengelilingi seluruh gunung Bulu Ase, dan di kaki gunung itu ada sebuah sungai bernama Batu Sebbo, di mana di situ tinggallah seekor buaya yang kelak menjadi penjaga gunung dan sawah serta padi yang tumbuh di dalamnya, melanjutkan tugas yang pernah dilakukan Meong Palo Karellae.

Saat ini jika tiba masa potong padi, Gunung Bulu Ase sering dijadikan tempat berkumpul bagi masyarakat di Kabupaten Sinjai, dan mereka membuat acara “Makan Beras Baru” serta “Pembersihan Diri”. Dalam acara tersebut masyarakat bergembira ria dan menarikan sebuah tarian adat bernama “Tari Mappaddekko”. Begitulah kisah yang melatar belakangi awal tumbuhnya padi di Sinjai. [Dongeng Klasik Masyarakat Bugis-Sinjai, Sulawesi Selatan, Indonesia – Copyright @ Dongeng Klasik Sulawesi Selatan]

Tabe, salama' ki'
Keep Happy Blogging Always, Mari ki' di' :-)

1 komentar:

  1. ternyata banyak juga ya cerita padi dan sampai sekarang kadang cerita itu menjadi latar belakang beberapa acara atau upacara untuk memperingatinya...kalau ditempat saya ada cerita nek baruakng kulub yang menurunkan padi...ok menarik kang...makasih

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungan sahabat-sahibit blogger se-dunia, jangan lupa meninggalkan jejak dengan menyampaikan segala unek-unek pada kolom komentar yang tersedia.... :-)