Ambo Upe dan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau

Ambo Upe dan Burung Elang Menangkap Perampok Kerbau

Tersebutlah suatu waktu di sebuah desa di daerah Soppeng, Sulawesi Selatan, Indonesia, hiduplah seorang kepala desa bernama Ambo Asse' yang memiliki kerbau sebanyak delapan ekor. Ambo Asse' memiliki seorang anak bernama Ambo Upe' yang usianya menanjak remaja. Ambo Upe dikenal sebagai anak yang rajin dan suka menolong siapa saja, serta penyayang binatang, itulah sebabnya ia dipercaya untuk menggembalakan kerbau-kerbau itu oleh bapaknya.


Sementara itu pula belakangan ini penduduk desa sedang dilanda keresahan dan gelisah, penyebabnya karena mereka sering kehilangan kerbau. Sudah puluhan ekor kerbau yang lenyap tak tahu di mana rimbanya. Meskipun mereka tahu bahwa kerbau-kerbau itu dicuri, dan berbagai upaya dilakukan, namun belum ada titik terang kemana gerangan kerbau-kerbau itu dibawa oleh pencurinya, seolah-olah lenyap ditelan bumi. Hal ini membuat Ambo Asse’ sebagai kepala desa menjadi pusing tujuh keliling.

Hingga pada suatu waktu Ambo Upe’ membawa ke delapan ekor kerbau-nya ke sebuah padang rumput yang luas nan hijau untuk digembalakan. Setiba di sana, dia pun melepaskan kerbau-nya lalu pergi berteduh di bawah sebuah pohon beringin yang rindang dan rimbun di tengah padang rumput itu. Sedang asyik mengawasi kerbau-nya sembari menikmati hembusan semilir angin sepoi-sepoi, tiba-tiba sebuah benda jatuh di depannya.

Karena terkejut dan penasaran, Ambo Upe’ mengambil benda itu yang rupanya sebuah sangkar burung, di dalamnya ada seekor anak burung yang belum bisa terbang karena badannya baru ditumbuhi bulu namun belum sempurna. Merasa kasihan melihat anak burung itu, Ambo Upe' pun membawanya pulang ke rumahnya sekaligus bersamaan waktunya saat ia membawa pulang kerbau-kerbaunya.

Ambo Upe’ merawat anak burung itu dengan sabar serta memberinya makan secara teratur, hingga tak terasa beberapa bulan kemudian burung itu sudah tumbuh menjadi besar. Bulu coklat menutup seluruh tubuh dan bulu putih mewarnai seluruh lehernya, sudah tumbuh sempurna, sehingga terlihatlah wujud asli burung itu yang rupanya seekor burung Elang. Sejak saat itulah, Ambo Upe’ selalu mengajak burung Elang itu kemanapun ia pergi, bahkan saat menggembalakan kerbau, burung  itu juga turut menyertainya. Begitu dekat Ambo Upe’ dengan burung Elang itu, sehingga ia bisa memahami setiap isyarat yang diberikan oleh burung tersebut.

Suatu hari Ambo Upe’ menggembalakan kerbaunya ke sebuah padang yang agak jauh dari padang tempat ia biasa menggembalakan kerbaunya. Untuk mencapai padang ini Ambo Upe harus melintasi sebuah hutan. Tak heran bila padang ini sangatlah sepi, karena tak ada satupun orang yang lalu lalang di sekitarnya. Setibanya di padang tersebut, Ambo Upe’ pun melepaskan kerbaunya untuk merumput, sementara ia pergi berteduh di bawah sebuah pohon sementara itu burung Elang-nya terbang dan hinggap bertengger di dahan tertinggi pohon tersebut.

Tiba-tiba Ambo Upe’ melihat ada empat orang perampok berpostur tubuh kekar dan berotot serta berwajah brewokan muncul dari dalam hutan. Keempat orang itu itu terlihat membawa parang dan tombak, perlahan mereka berjalan mendekat menghampirinya, membuat perasaan Ambo Upe jadi tak menentu, ada rasa takut yang seketika muncul dalam hati-nya. Ingin lari, tapi tak tahu mau lari kemana.

“Hai anak muda serahkan semua kerbaumu kalau kau mau selamat!!!” bentak salah seorang perampok sambil mengacungkan parang-nya kepada Ambo Upe’. Mendapat ancaman seperti itu membuat Ambo Upe’ hanya bisa pasrah dan menyerahkan seluruh kerbaunya kepada perampok itu. Perampok perampok itu lalu mengikat Ambo Upe’ pada sebatang pohon, setelah itu mereka-pun membawa kerbau-kerbau Ambo Upe’ masuk ke dalam hutan, tempat mereka keluar sebelumnya.

Sang burung Elang hanya bisa mengawasi semua yang terjadi dari atas pohon. Secara diam-diam burung itu terbang mengikuti ke arah mana para perampok membawa kerbau-kerbau milik Ambo Upe’. Ternyata hewan ternak itu dimasukkan ke dalam sebuah gua yang terdapat di tengah hutan. Setelah itu burung Elang terbang kembali ke arah rumah Ambo Upe’ . Hari sudah menjelang senja, saat burung itu tiba, dan terlihatlah di rumah Ambo Upe’ telah berkumpul warga desa beserta Bapak dan Ibu Ambo Upe’ yang cemas, karena anaknya belum kembali juga.

Burung Elang itu pun langsung hinggap di bahu Bapak Ambo Upe’ dan mencoba memberitahu bapak Ambo Upe’ agar mengikutinya. Semula Ambo Asse’ tak mengerti apa yang diinginkan oleh burung itu, namun burung Elang itu tak putus asa, terus dan terus memberi isyarat kepadanya. Akhirnya Ambo Asse’ mencoba memahaminya dan bersama-sama penduduk desa, mereka mengikuti kemana burung Elang itu akan terbang. Rupanya burung  itu terbang ke arah di mana Ambo Upe’ di ikat oleh perampok tadi.

Melihat anaknya terikat di pohon, Ambo Asse’ pun segera mengeluarkan badiknya untuk memutuskan tali ikatan yang melilit di tubuh anaknya. Setelah itu Ambo Upe’ menceritakan semua yang terjadi, bahwa ia telah dirampok oleh empat orang perampok, yang membawa delapan ekor kerbaunya masuk ke dalam hutan. Sang burung Elang terlihat sedang memberi isyarat kepada Ambo Upe’, dan senyum di bibir Ambo Upe’ pun mengembang saat memahami apa yang diisyaratkan oleh sang burung Elang.

“Pak, bagaimana kalau kita tangkap para perampok itu.” kata Ambo Upe memberikan usul. Mendengar usulan anaknya, Bapaknya pun bertanya,” Bagaimana caranya menangkap perampok itu, sedangkan tempat persembunyian pun tak ada seorang pun yang tahu??”

Ambo Upe’ pun menjelaskan bahwa ia telah memperoleh keterangan dari isyarat yang disampaikan oleh burung Elang miliknya, di mana tempat persembunyian para perampok itu. Mengetahui hal itu, puluhan penduduk desa yang mengikuti Bapak Ambo Upe’ menjadi gembira, dan menunggu komando dari kepala desa, yaitu Bapak Ambo Upe’. Senjata-senjata berupa badik, parang dan tombak pun mulai dipersiapkan. Obor pun mulai dinyalakan, karena hari telah mulai gelap.

Dengan di pimpin oleh Ambo Asse’ maka berangkatlah para penduduk dengan memanfaatkan nyala obor serta mengikuti arah kemana burung Elang dan Ambo Upe’ pergi. Setelah berjalan jauh ke dalam hutan, akhirnya mereka menemukan tempat persembunyian para perampok itu. Para penduduk lalu mengepung tempat itu, dan tak lama kemudian ke empat perampok itu pun karena kalah jumlah dan kalah senjata, akhirnya menyerah tanpa melakukan perlawanan berarti.

Kerbau-kerbau milik Ambo Upe’ pun dikeluarkan dari dalam gua, dan rupanya bukan hanya kerbau Ambo Upe’ saja yang ada, tetapi juga kerbau-kerbau penduduk desa yang selama ini hilang tak tentu rimbanya. Rupanya empat perampok itulah yang mencuri kerbau-kerbau mereka selama ini.

Penduduk desa pun kemudian kembali ke desa sambil menggiring para perampok itu bersama puluhan ekor kerbau hasil jarahan mereka selama ini. Di depan rombongan penduduk, berjalanlah Ambo Upe’ beserta burung Elang-nya. Sambil mengelus bulu burung Elang-nya dengan lembut dan penuh kasih sayang, Ambo Upe’ pun berkata, “Duhai burung Elang, jasamu sangat besar bagi penduduk desa. Dan kamu juga sudah menyelamatkan diriku dari bahaya yang mengancam. Terimakasih banyak kuucapkan, sungguh tak akan pernah kulupakan semua kebaikanmu, sekali lagi terimakasih.”

Akhirul cerita, penduduk desa kini merasa tenang, karena kerbau mereka sudah kembali dan pencurinya sudah ditangkap. Demikian pula kehidupan Ambo Upe’ dan burung Elang-nya pun berlanjut penuh dengan suasana saling tolong menolong. Rasa sayang Ambo Upe’ kepada burung Elang-nya pun semakin bertambah dan dia senantiasa merawat burung-nya dengan baik dan penuh kasih sayang. [Dongeng Klasik dari Masyarakat Bugis-Soppeng, Sulawesi Selatan, Indonesia – Copyright @ Dongeng Klasik Sulawesi Selatan]

Tabe, salama' ki'
Keep Happy Blogging Always, Mari ki' di' :-)




12 komentar:

  1. Saya suka baca dongeng terlebih yang memiliki spirit perjuangan seprti postingan ini, lebih segar lagi jika dibumbui lelucon yang menghibur ya Pak Har...

    Salam blogwalking dari Pulau Dollar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hohoho... dapat PERTAMAX

      Hapus
    2. saya lagi bingung biar dapet pertamax dari sini gimana caranya ya

      Hapus
    3. oh iya, lay out dengan kolom komen baru nih ya Mas, kayaknya lebih fresh rasanya

      Hapus
    4. kalau baca dongeng itu butuh waktu yang khusus dan tenang,,, jadi sayamah ikut nimbrung aja disini lah

      Hapus
  2. wah dongeng disana ternyata banyak juga ya baru tau soalnya

    BalasHapus
  3. hebat juga ya burung Elang, bisa memberi isyarat dimana keberadaan perampok

    BalasHapus
  4. Nusantara memang surga segala cerita dan donegeng ,sayangya belum ada yang kepikiran mbuatkan kartun atau komiknya Kang?

    BalasHapus
  5. blog baru ya pak?,ngomong-ngomong soal burung elang,kemaren ada yang nawarin tapi saya gak mau karena burung apendik ,hehee

    BalasHapus
  6. lega, hepi ending di akhir cerita
    saya taruhan, cerita begini belum tentu dihayati sama anak-anak sekarang kan Mas?

    BalasHapus
  7. cerita yang bagus
    saya juga suka happy ending
    cocok untuk anak-anak

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungan sahabat-sahibit blogger se-dunia, jangan lupa meninggalkan jejak dengan menyampaikan segala unek-unek pada kolom komentar yang tersedia.... :-)